Friday, 28 February 2014

sesalmu takkan membuatnya kembali,,,,,,,,

tempat sang suami menghabiskan waktu

Adalah sebuah kisah nyata yang mengiris hati, tanpa menyebutkan nama dan alamat lengkap, berharap kisahnya bisa menjadikan sedikit renungan.
Betapa tidak kita ingin sebentar saja merenungkan akan kisahnya, jika selama ini mungkin hanya aku temui kisah seperti ini dalam cerpen atau sinetron. Tapi ini sungguh benar terjadi, dan membuat jidat berdenyut dan kepala merunduk , bahkan wajahpun tak terasa akan menjadi kuyup, tak mampu mengeluarkan kata dan hanya diam berbisik dalam hati,,,,,"owh betapa sungguh entahlah jika itu aku yang mengalami,,,,".

Ya,,,,tinggalah sepasang suami istri yang tak lagi muda namun juga belum begitu tua,,,,antara 40-45 tahun usia mereka. Perkawinan tanpa dikarunia anak, nampak seperti tak masalah buat mereka. Sang istri sibuk bekerja disebuah perusahaan swasta, dan sang suami selalu rutin menunaikan tugasnya sebagai seorang pendidik. Mungkin karena memang usia perkawinan mereka yang telah cukup lama dan tak kunjung memiliki keturunan, dan bahkan memang mereka mungkin sudah optimis untuk memiliki keturunan, atau entahlah, namun mereka memutuskan untuk memiliki rumah yang tak begitu besar, sekiranya hanyalah cukup untuk mereka berdua berteduh.

Badan tegap dan gagah sangatlah cocok jika sang suami sebagai pendidik olahraga ditingkat sekolah dasar. Suaranya yang keras dan sifatnya yang kadang sedikit mendapatkan hujatan tetangga atau teman sejawatnya, tak membuatnya berhenti memberikan senyum, dan jika kita fikir kembali, itulah watak sesorang dengan kebaikan dan keburukanya, karena walau begitu sesungguhnya ia adalah pribadi yang baik, penyayang dan suka membantu siapapun yang membutuhkan dan apapun itu selama ia mampu. Tak jarang pula ia membuat siapa saja yang sedang kalut, terbahak oleh celotehan dan senda guraunya. Meskipun sungguh beberapa hal darinya sangat menyebalkan. Tapi itulah manusia yang sewajarnya "dua keping mata uang ". 

Paragraph diatas adalah sosok sang suami, dan paragraph ini adalah tentang sang istri. Cantik dan suka bercanda dengan beberapa hal yang menjengkelkanpun adalah pribadi yang Ia miliki. Walau Ia cantik, namun sifatnya yang tidak perduli dengan sekitar ataupun anak-anak nampak jelas pada dirinya. Walaupun jika sudah bercanda sungguh menjadi-jadi. Ia hanya mengikuti sosial dalam bermasyarakat alakadarnya, Ia lebih suka diam dirumah setelah pulang beraktifitas. Menyapa dan berbagi senyumpun alakadarnya.

Dan disinilah kisah dimulai, rumah sederhana mereka berada tak jauh dari sebidang sawah milik pemerintah. Bentuk sawah yang kotak dengan empat sudut, berdampingan dengan rel kereta api,,,,ujung barat dari sawah adalah sebuah stasiun kecil, dua sudut kosong, dan satu sudut lagi terdapat sebuah taman kecil, dengan tempat duduk terbuat dari bambu,...alakadarnya ,,,dengan pohon yang rindag dan layaknya sebuah taman, rumput jepang, aneka bunga dan batuan yang dihias nampak sangat menyenangkan untuk sejenak bersantai. Tapi tidak sejenak buat sang suami, sebagian waktunya Ia habiskan untuk duduk disitu, selepas pulang bekerja. Anak-anak yang bermain sesuai musimpun selalu merasa tenang akan keberadaanya, karena setiap saat mereka dalam kesulitan, tak harus berlari pulang untuk memanggil ayah mereka, entah untuk mengambil layang-layang yang menyangkut dipohon, untuk memebantu menaikkan layang-layang supaya bisa terbang atau apa sajalah. Ia selalu ada, dan bahkan tak jarang motor maticnyapun dijadikan medianya untuk mendekatkan diri pada anak-anak, berjuta rayuan Ia lontarkan supaya setiap anak dekat denganya. 

Sekilas semuanya nampak baik, senyum dan cara Ia bersosialisasi, mampu meluruhkan sifatnya yang nampak keras dan galak. Ia hanya nampak seram, tapi sesungguhnya Ia pribadi yang baik, dan Ia nampak baik-baik saja, tapi sesungguhnya hatinya,,,entahlah. Namun fakta teungkap setelah semua telah berlalu.
Sebenarnya adalah sebuah pertanyaan besar bagi kami semua yang ada disekelilingnya, mengapa Ia menghabiskan sisa waktunya disudut sawah itu selepas bekerja, ya,,,selepas bekerja,,,hingga petang dan bahkan hingga tengah malam. " Kenapa, mengapa, bagaimana dengan istrinya dirumah bukankah Ia hanya sendiri,....????". Namun pertanyaan itu, sungguh tak mungkin terlontar dari bibir kami, walaupun ternyata sesungguhnya ada seseorang yang tau persis akan dirinya, yaitu orang yang Ia percaya untuk menampung keluh kesahnya, dan yang lainya biaralah hanya sekedar bertanya-tanya, dan kamipun takkan bertanya walaupun kami bisa meraba.

Ternyata rabaan kami tidak salah, ketidak harmonisan dalam rumah tangganya adalah peyebabnya, entah belum dikaruniai seorang anak, materi atau entah kami tak mengerti. Tapi yang nampak jelas adalah ketidak perdulian sang istri terhadapnya. Dan Iapun hanya diam, dan memilih hal-hal seperti tersebut diatas, Ia nampak semuanya sungguh baik-baik saja, tak ada duka ataupun rasa ingin berontak. Ia nampak tidak memperdulikan hal itu walau sesungguhnya hatinya hancur bagai serpihan. Mungkin Ia memnag menyadari jika itu sifat orang yang sangat Ia cintai, atau memang Ia tak ingin orang lain tahu bahwa sesungguhnya hatinya lemah, atau memang itulah caranya menjaga hubunganya supaya tetap terjaga dengan baik, atau,,,,entahlah, Ia memiliki pilihan untuk mengatasi itu semua dengan caranya sendiri.

Hingga pada suatu siang, yang diawali dengan pagi yang nampak menjadi pemandangan aneh bagi kami semua. Ia nampak mesra dan bahagia sekali dengan istrinya. Ya sebelum waktu itu tibapun kami sudah ternganga, dengan ceritanya tentang sang istri yang minta pergi singgah ke laut sepulang dari berkunjung dirumah familinya, ceritanya nampak membuat Ia bahagia, senyumnya lepas dan kamipun turut senang. Dua hari setelah itu di pagi yang belum jelas apakah mentari akan muncul atau hujan akan segera datang, kamipun kembali melihat mereka berboncengan dengan sepeda motor maticknya. Dan kami tak mengira, ternyata sang istri hendak mengantarnya kedokter praktek di daerah yang tak jauh dari daerah kami. Sang suami ternyata sakit, pak guru olahraga yang baru tersenyum lepas, dengan postur tubuhnya yang tegap, sakit tiba-tiba.

Dan masih dihari yang sama, di siang hari, kala saat semua anak-anak sekolah kembali pulang kerumah, kala mentari akhirnya tepat ada diatas kepala, kala hari itu adalah hari terburuk bagi waraga kampung kami. Sang suami terkapar tak bernyawa, tanpa seorangpun mengetahui hal itu. Sesungguhnya sang istri sedang sangat memperhatikannya, Ia sesungguhnya tak ingin pergi untuk bekerja, namun sang suami berkata , "pergilah,,,,aku merasa lebih baik sekarang,,,jika aku membutuhkan sesuatu dan tak mampu,,,aku akan menghubungimu,,,,," karenanya istripun memutuskan untuk pergi bekerja. Dan entah mengapa perasaanya tak enak dan memaksanya untuk sejenak pulang, dan ternyata, perasaanya tidak salah ,,,Ia tak hanya sejenak pulang untuk melihat bagaimana kondisi sang suami,,,,namun Ia harus berteriak sekuat tenaga,,,membuat kami semua terjaga dan lari mendekatinya.

Sang suami terkapar tak bernyawa, diruang tamu, tanpa seorangpun tahu. Jika perasaan sang istri tak menuntunya pulang ,,,,,sungguh takkan ada yang tahu. Lngit biru nampak lengang, kepanikan dan kerumunan membuat sang istri makin tak mampu mengendalikan emosi. Birunya langit dan ucapan kami semua tak mampu menenangkan sang istri. Wajarlah, semua begitu cepat terjadi, dan tak seorangpun mengira ini semua terjadi. Sang suami pergi untuk selamnaya didetik-detik dimana Ia sangat merindukan sang istri,,,,,dan sejenak baru Ia rasakan. Tak hanya meninggalkan duka bagi sang istri, kami semua merasa sanagt kehilangan. Terlebih bagi sang istri, ada penyesalan tertinggal, ada rasa bersalah yang tak kan lekang oleh waktu ada rasa yang sulit terungkap ada rasa yang bahkan air matapun tak sanggup mewakili kesedihanya. Ia tak menyesal akan keputusan Tuhan, Ia menyesal akan hari-harinya yang telah ia sia-siakan tanpa perduli padanya, jika sebelumnya, pada saat itu Ia hanya menahan rasa yang Ia miliki,,,,kini tidak lagi, Ia telah ungkapkan semua penyesalanya, walau hanya sia-sia, waktu takkan pernah membuatnya kembali, walaupun sang istri berjanji akan memberikan cinta kasih dan perhatian yang lebih, namun sungguh itu tak mungkin. Ratapnya hanya sia-sia seperti halnya Ia telah menyia-nyiakan kesempatan yang seharusnya Ia gunakan sebaik mungkin.

Dalam kesendirianya kini, hanya doa-doa yang Ia panjatkan, walau kini Ia nampak lebih tegar, namun hatinya masih sulit menerima akan apa yang telah Ia lakukan selama ini. Kini tak ada lagi sosoknya, tak ada lagi sesorang yang selalu duduk disudut sawah, tak ada lagi sosok penolong anak-anak, tak ada lagi sosok yang nampak galak namun sungguh penuh kasih. Waktu berlalu, hari berganti, sesal sang istri masih selalu menyelimuti. Walau sejenak sang istri sempat membuat suaminya merasakan apa yang seharunya Ia rasakan selama ini, membuat sang suami merasa lebih berarti, namun sesungguhnya itulah saat-saat Ia akan pergi dan takkan pernah kembali. Tuhan memnaggilnya pulang, dan Iapun harus pulang.

Kini, hanyalah renungan sejenak, bagi sang istri dan kami semua, jangan pernah menyia-nyiakan setiap detik terindah yang kita miliki, jangan pernah menyia-nyiakan seseorang yang tulus ikhlas mencintai dan mengasihi kita. Adalah hal yang wajar bahwa setiap orang memiliki kekurangan, terimalah dengan hati yang luas seluas samudra. Kelebihan seseorang tak selalu nampak, hanya kekurangan seseorang yang akan selau menjadi topik utama, dan kelebihanya hanya akan menjadi salah satu paraghraph, itulah adanya manusia. Sesal tak pernah diawal, namun jika kita sejenak saja bisa memahami akan waktu yang diberikan Tuhan akan selalu menjadi kenangan yang takkan pernah bisa kembali atau terulang lagi, bahkan terindah atau terburuk sekalipun mungkin sesal itu takkan pernah ada. Waktu takkan pernah kembali, sesalpun tak ada arti.

Kutowinangun, 28 Februari 2014 16:10PM

No comments :